Selasa, 12 September 2017

ARTI PENTING UUD 1945 BAGI BANGSA DAN NEGARA INDONESIA



Arti Pentng UUD NRI bagi Bangsa dan Negara Indonesia

UUD merupakan hukum dasar tertulis dan sumber tertib hukum yang tertinggi dalam negara Indonesia yang memuat tentang:
1.      Hak-hak asasi manusia
2.      Hak dan kewajiban warga negara
3.      Pelaksanaan dan penegakan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara
4.      Wilayah negara dan pembagian daerah,kewarganegaraan dan kependudukan, keuangan dan negara
Sebagai peraturan negara yang tertinggi, UUD 1945 menjadi acuan dan parameter dalam pembuatan peraturan-peraturan yang ada di bawahnya. Oleh sebab itu, peraturan perundang-undangan yang ada tidak boleh bertentangan dengan UUD 1945. Kita sebagai warga negara Indonesia harus menyadari beberapa manfaat yang kita peroleh dari adanya UUD 1945 ini, antara lain:
1.      Mengatur norma-norma di Indonesia
2.      Mengatur proses pemerintahan hukum di Indonesia
3.      Menciptakan warga negara yang mampu membangun negara Indonesia, sehingga menjadi negara yang kuat dan hebat
4.      Menjadi penuntun dan pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta menjadikan Indonesia negara yang memiliki hukum yang kuat.
5.      Menjadi suatu landasan untuk mengatur keseluruhan warga negara Indonesia
6.      Mampu mengarahkan warga negara Indonesia kepada kehidupan yang tertib dan damai, agar terciptanya kehidupan yang sejahtera.
7.      Menjadikan sebuah negara yang harmonis dalam berbangsa dan bernegara
8.      Menjadikan bangsa Indonesia sejahtera, adil dan makmur
9.      Melindungi segenap bangsa Indonesia
10.  Mencerdaskan kehidupa bangsa
11.  Setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama dalam hukum
12.  Terjaminnya hak asasi sebagai warga negara
13.  Setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban sebagai warga negara Indonesia
14.  Setiap warga negara mendapatkan perlindungan dan keamanan dari negara
15.  Negara Indonesia bisa melaksanakan penegakan kedaulatan negara dan pembagian kekuasaan negara.
16.  Negara dapat membagi wilayah negara dan pembagian daerah, kependudukan, serta keuangan negara RI.
17.  Terciptanya kehidupan yang harmonis tanpa ada perselisihan
18.  Menjadi acuan dalam pembuatan peraturan-peraturan yang ada di bawah UUD 1945.
19.  Akan menimbulkan rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi sebagai warga negara.
20.  Sebagai warga negara kita akan memiliki kesadaran dan kemampuan dalam membela negara ini.
21.  Menjelaskan bahwa negara Indonesia adalah negara yang merdeka dan tidak akan bisa dijajah oleh bangsa lain,
22.  Menjalani alat pemersatu bangsa.

Selain manfaat dari UUD 1945, ada pula dampak jika tidak adanya UUD 1945;
1.      Warga negara Indonesia tidak akan mempunyai aturan dalam hidup
2.      Negara Indonesia akan sangat mudah dijajah oleh bangsa lain
3.      Akan terjadi perselisihan dan permasalahan-permasalahan sesama warga negara Indonesia
4.      Negara tidak lagi memiliki arah dan tujuan yang jelas
5.      Terjadinya perpecahan, kekaauan, dan berbagai macam kerusuhan
6.      Banyak terjadinya penyimpangan kekuasaan
7.      H A M tidak lagi dijunjung tinggi
8.      Keamana warga negara Indonesia tidak lagi terjamin
Hukum tidak lagi memiliki arti.

MENUMBUHKAN KESADARAN BERKONSTITUSI



MENUMBUHKAN KESADARAN BERKONSTITUSI
Konstitusi adalah hukum dasar yang dijadikan pegangan dalam penyelenggaraan suatu negara. Konstitusi dapat berupa hukum dasar tertulis yang biasa disebut UUD, dan dapat pula tidak tertulis yang juga disebut konvensi.
UUD merupakan sumber hukum tertinggi yang menjadi pedoman dan norma hukum yang dijadikan sumber hukum bagi peraturan perundang-undangan di bawahnya.
Sesuai dengan pasal 1 ayat (2) UUD NRI 1945, “kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”. Dari bunyi pasal tersebut dapat diketahui bahwa pemegang kekuasaan tertinggi di negara Indonesia adalah Rakyat, serta kedaulatan rakyat dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.
A.    Perumusan dan Penetapan Undang-Undang Dasar NRI tahun 1945
Pembahasan UUD NRI 1945 dilakukan dalam sidang BPUPKI, tepatnya dalam sidang keduanya. Pada sidang keduanya, tepatnya pada tanggal 11 Juli 1945 dibentuklah beberapa panitia, yaitu
1.      Panitia Perancang UUD dengan ketua Ir. Soekarno
2.      Panitia Perancang Keuangan dan Perekonomian, dengan ketua Moh. Hatta.
3.      Panitia Perancang Pembelaan Tanah Air, dengan ketua Abikusno Tjokrosujoso.
4.      Panitia Penghalus Bahasa untuk UUD, yang beranggotakan Husein Djajadiningrat, H. Agus Salim, dn Prof. Dr. Soepomo.

Setelah pembentukan  panitia tersebut, panitia Perancang UUD melanjutkan sidang,11 Juli 1945, dan menghasilkan kesepakatan:
1.      Membentuk Panitia Perancang yang beranggotakan Dr. Supomo (ketua), KRMT wongsonegoro, Achmad Subardjo, AA Maramis, Agus Salim, Sukiman Wirjosandjojo, dan Raden Panji Singgih.
2.      Bentuk “Unitarisme”  atau negara kesatuan.
3.      Kepala negara ditangan satu orang, yaitu presiden.
4.      Membentuk Panitia Kecil Perancang UUD yang diketuai oleh Supomo.

Berikut daftar nama-nama anggota panitia yang dibentuk BPUPKI dalam perancangan UUD:
1.      Panitia  perancang UUD
a.       Ir. Soekarno (ketua)                                           k.  K.H. Wachid Hasyim
b.      AA Maramis                                                      l.   Parada arahap
c.       Otto Iskandardinata                                           m.  Latuharhary
d.      Puruboyo                                                           n.   Susanto Tirtiprojo
e.       H. Agus Salim                                                   o.   sartono
f.        Achmad Soebardjo                                            p.   Wongsonegoro
g.      Prof. Dr. Supomo                                              q.   wuryaningrat
h.      Maria Ulfa Santoso                                            r.    Tan Eng Hoat
i.        R.P Singgih                                                       s.   dr. Sukiman
j.        P.A. Husein Djayadiningrat                               

Dan anggota panitia kecil Panitia Perancang UUD adalah
1)      Prof. Dr. Supomo (ketua)                            5)   R.P. singgih
2)      Achmad Soebardjo                                      6)   Wongsonegoro
3)      H. Agus Salim                                             7)   dr. Sukiman
4)      AA Maramis                                               

2.      Panitia perancang keuangan dan perekonmian
a.       Drs. Moh. Hatta (Ketua)                               
b.      Soerachman                                                  
c.       Margono                                                       
d.      Soetardjo                                                       
e.       Sanusi                                                            
f.        Rooseno
g.      Soerjo Amidjojo
h.      Dewantara
i.        Koesoema Atmadja
j.        Fatah Hasan




3.      Panitia perancang pembelaan negara
a.       Abikusno Tjokrosoejoso (Ketua)                      l.   Kafar
b.      Kadir                                                                 m. Maskoer
c.       Asikin                                                                n.  Halim
d.      Bintoro                                                              o.  Kolopaking
e.       Hendromartono                                                 p.  Soedirman
f.        Moedzakir                                                         q.  Aris
g.      Sanoesi                                                              r.   Noor
h.      Moenandar                                                        s. Pratalykrama
i.        Samsoedin                                                         t.   Lim Koen
j.        Soekardjo Wirjopranoto                                   
k.      Soerio                                                               

Selanjutnya pada tanggal 13 Juli 1945, Panitia Perancang UUD berhasil membahas dan menyepakati beberapa hal yaitu tentang lambang negara, negara kesatuan, sebutan Majelis Permusyawaratan Rakyat, dan menyerahkan hasil perumusannya kepada Panitia Penghalus Bahasa yang bertugas untuk menyempurnakan dan menyusun kembali rancangan UUD yang sudah disepakati tersebut.
Pada tanggal 14 Juli 1945, kembali diadakan rapat dengan agenda “Pembicaraan Tentang Pernyataan Kemerdekaan”. Adapun hasil tugas yang dilaporkan ketua Panitia Perancang UUD, Ir. Soekarno, adalah sebagai berikut:
1.      Rancangan teks proklamasi yang diambil dari alinea 1,2, dan 3 rancangan Preambule hukum dasar (piagam Jakarta)  ditambah dengan yang lain sehingga merupakan teks proklamasi yang panjang,
2.      Rancangan Pembukaan UUD 1945 diambil dari aalinea 4 Rancangan Preambule Hukum Dasar (piagam Jakarta).
3.      Rancangan batang tubuh UUD.

Dan pada sidang tanggal 15 Juli 1945 dilanjutkan dengan “Pembahasan Rancangan UUD”. Dan pada akhirnya naskah UUD diterima dengan suara bulat pada sidang BPUPKI, pada tanggal 16 Juli 1945.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perumusan Pancasila sebagai dasar negara yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 dirumuskan dalam sidang-sidang BPUPKI.