Selasa, 12 September 2017

MELAWAN EGOISME



MELAWAN EGOISME
Manusia cenderung egoistic, mementingkan diri sendiri. Egoisme merupakan suatu kejahatan dan dipandang sebagai pelanggaran moral karena ia selalu mengabaikan kepentingan orang lain. Egoisme membuat manusia jauh dari kebenaran dan menyimpang dari petunjuk Tuhan. Egoisme, dengan demikian, dapat dipandang sebagai penjara (belenggu) bagi manusia.
Dalam bahasa agama, ego atau egoisme itu dinamai hawa nafsu. Perkataan hawa nafsu ini berasal dari kata Arab. Hawa berarti keinginan, al-nafs berarti diri manusia atau kecenderungan dalam diri manusia. Jadi, hawa nafsu berarti kecenderungan dalam diri manusia  untuk selalu mengikuti hal-hal buruk.
Oleh karena itu, manusia disuruh melawan dan mengendalikan hawa nafsu. Usaha manusia dalam perjuangan melawan hawa nafsu ini tentu bertingkat-tingkat, tergantung pada kemampuan dan kekuatan imannya.  Dalam buku Mizan al-‘Amal,  Imam Ghazali menyebutkan tiga tingkatan manusia dalam masalah ini.
Pertama, orang sepenuhnya dikuasai oleh hawa nafsunya dan tidak dapat melawan sama sekali. Ini merupakan keadaan manusia pada umumnya. Dengan begitu, ia sungguh telah mempertaruhkan hawa nafsunya seperti yang dimaksud dalam ayat ini:

 
 
Terjemahan:
“maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah
membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya” (Q.S. Al Jasiyah : 23)

Kedua, orang yang senantiasa dalam pertarungan melawan hawa nafsu. Pada suatu kali ia menang dan pada kali yang lain ia kalah. Kalau maut merenggutnya  dalam pertarungan ini, maka ia tergolong mati syahid. Dikatakan demikian, karena ia sedang dalam perjuangan melawan hawa nafsu sesuai dengan perintah Nabi saw., “Berjuanglah kamu melawan hawa nafsumu sebagaimana kamu berjuang melawan musuh-musuhmu.” Ini merupakan tingkatan manusia yang tinggi di bawah para nabi wali-wali Allah.
Ketiga, orang yang sepenuhnya dapat menguasai dan mengendalikan hawa nafsunya. Inilah orang yang mendapat rahmat Allah, sehingga terjaga dan terpelihara dari dosa-dosa dan maksiat. Menurut Ghazali, ini merupakan tingkatan para Nabi dan wali-wali Allah.
Dalam perjuangan melawan hawa nafsu, menurut Ghazali, manusia dituntut ekstra hati-hati dan waspada secara terus-menerus, supaya tidak tertipu (ghurur). Kata Ghazali, banyak orang merasa telah bekerja dan berjuang untuk agama, nusa, dan bangsa, padahal sesungguhnya ia bekerja hanya untuk kepentingan dirinya sendiri dan untuk memuaskan egonya.
Sikap waspada juga diperlukan karena sering timbul kerancuan (iltibas) antara perintah akal (kebaikan) dan nafsu (keburukan). Berbeda dengan nafsu, akal secara umum menyuruh manusia kepada kebaikan. Namun, suatu saat kita bisa ragu-ragu dan tidak mampu mengidentifikasi dan menetapkan pilihan.
Dalam situasi demikian, Ghazali menganjurkan agar kita berpihak dan memilih sesuatu yang menyusahkan daripada yang menyenangkan. Alasannya, kebaikan pada umumnya menuntut kerja keras dan pengorbanan, sehingga terkesan menyusahkan. Pesan ini dapat dipahami dari ayat ini:

 


Terjemahan:
“diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(Q.S. Al-Baqarah : 216)

Pesan yang sama disampaikan pula oleh Rasulullah saw dalam hadits shahih. Sabdanya, “Surga dipagari oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan.” (H.R. Muslim dari Anas). Sabda Nabi ini tergolong “kata-kata indah” (badi’ al-kalam) dan termasuk “ungkapan pendek tapi penuh arti” (jawami’ al-kalim). Hadits ini mengandung makna bahwa seorang tidak akan masuk surga, kecuali a sanggup melakukan hal-hal yang menyulitkan. Sebaliknya, seorang tidak akan masuk neraka, kecuali ia melakukan berbagai kesenangan dengan memperturut hawa nafsu. Jadi surga dipagari oleh perbuatan mulia yang serba susah, sedangkan neraka dipagari oleh hal-hal yang menyenangkan. Maka siapa yang mampu membuka palang pintunya, maka ia masuk ke dalamnya. Palang pintu surga dibuka dengan perbuatan-perbuatan mulia, sedangkan gerbang neraka dibuka dengan kesenagan-kesenangan dan hawa nafsu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar